MAKALAH
PERANAN
PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI GURU
Untuk
Memenuhi Tugas Mata kuliah: Psikologi Pendidikan
Dosen
Pengampu: Dra. Nur
Wahyumiani, M.A
Oleh:
1. Daniel
Hermawan 12144600015
2. Azizah
Niken Mawar 12144600018
3. Fatchurahman 12144600038
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI YOGYAKARTA
2013
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas segala rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat
diselesaikan dengan baik dan lancar. Semoga dengan terselesainya pelaksanaan
hingga penulisan makalah ini sebagai titik awal langkah menuju perbaikan dalam
sistem pendidikan di Indonesia. Selama pembuatan makalah ini telah banyak
mendapat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan
ini penulis ingin sampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Ibu Dra. Nur Wahyumiani M.A selaku dosen pengampu mata kuliah
Psikologi pendidikan.
2. Orang
tua yang selalu memberikan dukungan dalam pembuatan makalah ini.
3. Serta
teman-teman kelas A1-12 PGSD yang senatiasa saling bertukar pikiran dalam
pembuatan makalah ini.
Atas
dukungan, bantuan, dan bimbingan selama penulis membuat makalah ini sehingga
bisa terselesaikan.
Masih
banyak sekali terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini,
maka penulis memohon dengan segala kerendahan hati untuk memberikan kritik dan
saran. Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 01 Oktober 2013
Penulis
BAB I
Latar Belakang
Realitas globalisasi dan modernisasi
dilengkapi dengan perkembangan teknologi yang begitu pesatnya, diakui atau
tidak telah memberi dampak negatif yang jauh lebih besar jika dibandingkan
dengan dampak positif yang ditimbulkan terhadap perkembangan para generasi
bangsa ini. Tujuan pendidikan Nasional sebagaimana telah diamanatkan oleh
Undang Undang Dasar 1945 adalah sebagai upaya mencerdaskan generasi-generasi
bangsa yang nantinya akan menjadi penerus perjuangan generasi terdahulu dalam
mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia menuju bangsa yang berbudi luhur dan
berkesejahteraan sosial.
Namun demikian, untuk mencapai
tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 diatas, bukanlah
merupakan suatu hal yang mudah untuk diraih. Dampak negatif dari globalisasi,
modernisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesatnya terhadap
perkembangan generasi-generasi bangsa ini tentunya bukan merupakan rahasia
lagi. Hampir setiap hari masyarakat di seluruh pelosok Indonesia disuguhi
dengan informasi-informasi mengenai pelajar yang membolos sekolah dan keluyuran
di jalanan atau berada di tempat penyewaan PS (Play Station), pelajar yang terlibat perkelahian, pelajar yang
terlibat perilaku seks bebas, pelajar yang terlibat penyalahgunaan narkoba dan
masih banyak lagi.
Realitas perilaku para pelajar
sebagaimana telah digambarkan di atas, jelas sangat menuntut keterampilan para
tenaga pendidik dalam memahami perkembangan psikologis, kognitif, afektif, dan
psikomotorik para pelajar jika menginginkan para pelajar tersebut tidak gagal
di bangku sekolah dan tidak kehilangan masa depan mereka. Di sinilah pentingnya
penguasaan psikologi pendidikan bagi para tenaga pendidik. Guru dalam
menjalankan perannya sebagai pendidik bagi peserta didiknya, tentunya dituntut
memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang
yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala
aspeknya sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang
pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan
pendidikan di sekolah.
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah pengertian psikologi pendidikan?
2.
Bagaimana peranan guru terhadap peserta didik
3. Bagaimana peran psikologi pendidikan
bagi guru?
C. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian psikologi
pendidikan.
2.
Menjelaskan peranan guru teradap peserta didik.
3. Mengetahui peran psikologi
pendidikan bagi guru
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Psikologi Pendidikan
Psikologi
Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia di dalam
dunia pendidikan yang meliputi studi sistematis tentang proses-proses dan
faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk mengembangkan
dan meningkatkan koefisien di dalam pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah
proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari dua
definisi ini maka jelas fokus dari psikologi pendidikan adalah proses belajar
mengajar.
Psikologi
pendidikan dapat juga dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah
memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
·
Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku
individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti
peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat
pendidikan.
·
Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil –
dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui
berbagai studi longitudinal
maupun studi cross sectional,
baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
·
Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan
dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Dengan
demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang
psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi
pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan
teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui
metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.
Arthur S. Reber mengatakan bahwa psikologi pendidikan adalah sebuah
subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan
yang berguna dalam hal-hal penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas,
pengembangan dan pembaharuan kurikulum, ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan,
sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan
pendayagunaan ranah kognitif, dan penyenggaraan pendidikan keguruan. Glover
dan Ronning (dalam Online)
psikologi pendidikan sebagai penerapan ilmu dan metode-metode psikologi untuk
studi perkembangan, belajar, motivasi belajar, pengajaran assesmen dan
aspek-aspek psikologi lainnya yang berkaitan dengan isu-isu yang berpengaruh
dan berinteraksi dengan proses belajar dan pembelajaran.
Duffy dan Roehler
(1989) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah suatu
usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki
guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Menurut Winkel
(1991, dalam Online) pembelajaran adalah
separangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa,
dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang berperan terhadap rangkaian
kejadian-kejadian intern yang
berlangsung dan dialami siswa.
Dariyanto S.S, Kamus
Bahasa Indonesia, (1997), pengajaran adalah proses, perbuatan, cara mengajar
atau mengajarkan perihal mengajar, segala sesuatu mengenai mengajar, peringatan
(tentang pengalaman, peristiwa yang dialami atau dilihatnya). Pengajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru dalam
menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Pengajaran juga
diartikan
sebagi interaksi belajar dan mengajar. Pengajaran berlangsung sebagai suatu
proses yang saling mempengaruhi antara guru dan siswa.
Pendidikan
sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, tidak akan mungkin dapat
dilepaskan dari psikologi. Karena dalam pendidikan berhubungan erat dengan
manusia. Jika kita membicarakan tentang manusia, maka akan banyak ilmu
pengetahuan yang muncul berkaitan dengan eksistensi manusia
B.Peranan Guru Terhadap Peserta
didik
Guru adalah orang yang membantu
orang lain belajar,mendesain materi pelajaran,membuat pekerjaan
rumah,mengevaluasi prestasi siswa,dan mengatur kedisiplinan.Dengan banyaknya
tugas guru sehingga dalam proses pembelajaran guru memilik banyak peran,antara
lain:
·
Guru
sebagai ahli instruksional,artinya guru harus secara tetap membuat keputusan
tentang materi pelajaran dan metodenya. Keputusan ini didasarkan sejumlah
factor yang meliputi mata pelajaran yang akan disampaikan,kebutuhan dan
kemampuan siswa,serta seluruh tujuan yang akan dicapai.
·
Guru
sebagai motivator,artinyatidak ada satupun guru yang dapat berhasil mengajar
secara otomatis,karena siswa juga harus berbuat dan bertindak.Salah satu hal
yang harus dilakukan guru yang paling
penting adalah menyampaikan motivasi baik disampaikan pada permulaan tahun
ajaran baru tetapi juga pada saat saat
diperlukan
·
Guru
sebagai manager,artinya sebagian besar guru SD menghabiskan waktu rata rata 30%
sehari untuk berinteraksi langsung dengan siswa.Di SMP,persentasenya lebih
tinggi lagi untuk di sekolah.Dalam waktu 24 jam dia harus terampil mengatur
waktu untuk mengelola sekolah jika mereka ingin menikmati waktu senggang dengan
keluarga.
·
Guru
sebagai konselor,artinya walaupun guru tidak diharapkan bertindak sebagai
konselor,mereka harus sensitive dalam mengobservasi tingkah laku siswa.Mereka
harus mencoba merespon secara konstruktif ketika emosi siswa mulai mengganggu
belajar,dan mereka harus tahu jika ada siswa yang membutuhkan bantuan ahli
jiwa.
·
Guru
sebagai model,artinya tidak menjadi soal apa yang kita lakukan sebagai seorang
guru,kita akan berakting sebagai model bagi siswa siswa kita.Misalkan guru guru
secara tetap bertindak sebagai model dalam menunjukkan bagaimana kita berfikir
untuk menyelesaikan masalah.Jika mereka melibatkan siswa siswa untuk memilih
alternative penyelesaian ,maka siwa akan belajar bahwa mereka sendiri mampu
menghadapi masalah masalah itu.
C. Peran Psikologi
Pendidikan Bagi Guru
Peran psikologi pendidikan bagi
pendidik yaitu menjadikan pendidik lebih terbuka terhadap perbedaan individu
karena setiap individu (siswa) itu berbeda, maka pendidik tidak bisa
menyamaratakan intelegensi maupun kecakapan mereka. Mungkin saja satu anak
tidak pandai dalam pelajaran Matematika tetapi pandai dalam menggambar, atau
anak yang lain tidak pandai dalam menggambar tetapi pandai menyanyi. Pendidik
mengetahui metode mengajar yang efektif karena setelah mengerti dengan
perbedaan masing-masing individu, pendidik haruslah mampu menggunakan metode
belajar yang mana untuk mengajar siswanya.
Pendidik memahami permasalahan anak
didik karena selain mengajarkan ilmu kepada peserta didik, sedikit banyaknya
harus tahu masalah yang dihadapi peserta didik. Bisa saja siswa yang sering
tertidur di kelas bukan karena malas,
tapi harus membantu orang tuanya berjualan hingga larut malam, sehingga saat
waktu jam belajar ia mengantuk.
Peran
mempelajari psikologi pendidikan bagi pendidik maupupun calon pendidik dapat
dibagi menjadi dua aspek, yaitu:
a. Untuk Mempelajari Situasi Dalam Proses Pembelajaran
Psikologi pendidikan memberikan banyak kontribusi
kepada pendidik dan calon pendidik untuk meningkatkan efisiensi proses
pembelajaran pada kondisi yang berbeda-beda seperti di bawah ini:
1)
Memahami
Perbedaan Individu (Peserta Didik);
Seorang pendidik harus berhadapan dengan sekelompok
siswa di dalam kelas dengan hati-hati karena karakteristik masing-masing siswa
berbeda-beda. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami perbedaan
karakteristik siswa tersebut pada berbagai tingkat pertumbuhan dan perkembangan
guna menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Psikologi
pendidikan dapat membantu pendidik dan calon pendidik dalam memahami perbedaan
karakteristik siswa tersebut.
2) Penciptaan Iklim Belajar
yang Kondusif di Dalam Kelas;
Pemahaman yang baik tentang ruang kelas yang digunakan
dalam proses pembelajaran sangat membantu pendidik untuk menyampaikan materi
kepada siswa secara efektif. Iklim pembelajaran yang kondusif harus bisa
diciptakan oleh pendidik sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan
efektif. Seorang pendidik harus mengetahui prinsip-prinsip yang tepat dalam
proses belajar mengajar, pendekatan yang berbeda dalam mengajar untuk hasil
proses belajar mengajar yang lebih baik. Psikologi pendidikan berperan dalam
membantu pendidik agar dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di
dalam kelas, sehingga proses pembelajaran di dalam kelas bisa berjalan efektif.
3) Pemilihan Strategi dan
Metode Pembelajaran;
Metode pembelajaran didasarkan pada karakteristik
perkembangan siswa. Psikologi pendidikan dapat membantu pendidik dalam
menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu
mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan
gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami peserta didik.
4) Memberikan Bimbingan kepada
Peserta Didik;
Seorang pendidik harus memainkan peran yang berbeda di
sekolah, tidak hanya dalam pelaksanaan pembelajaran, tetapi juga berperan
sebagai pembimbing bagi peserta didik. Bimbingan adalah jenis bantuan kepada
siswa untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. Pengetahuan tentang
psikologi pendidikan memungkinkan pendidik untuk memberikan bimbingan
pendidikan dan kejuruan yang diperlukan untuk siswa pada tingkat usia yang
berbeda-beda.
5) Mengevaluasi Hasil
Pembelajaran;
Pendidik harus melakukan dua kegiatan penting di dalam
kelas seperti mengajar dan mengevaluasi. Kegiatan evaluasi membantu dalam
mengukur hasil belajar siswa. Psikologi pendidikan dapat membantu pendidik dan
calon pendidik dalam mengembangkan evaluasi pembelajaran siswa yang lebih adil,
baik dalam teknis evaluasi, pemenuhan prinsip-prinsip evaluasi maupun
menentukan hasil-hasil evaluasi.
b. Untuk Penerapan Prinsip-prinsip Belajar Mengajar
1) Menetapkan Tujuan
Pembelajaran;
Tujuan pembelajaran mengacu pada perubahan perilaku
yang dialami siswa setelah dilaksanakannya proses pembelajaran. Psikologi
pendidikan membantu pendidik dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang
dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran.
2) Penggunaan Media
Pembelajaran;
Pengetahuan tentang psikologi pendidikan diperlukan
pendidik untuk merencanakan dengan tepat media pembelajaran yang akan
digunakan. Misalnya penggunaan media audio-visual, sehingga dapat memberikan
gambaran nyata kepada peserta didik.
3) Penyusunan Jadwal Pelajaran;
Jadwal pelajaran harus disusun berdasarkan kondisi
psikologi peserta didik. Misalnya mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa
seperti matematika ditempatkan di awal pelajaran, di mana kondisi siswa masih segar
dan semangat dalam menerima materi pelajaran.
Menurut
Chaplin (1972, dalam Online), untuk
membantu memcahkan masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan yang meliputi
guru, siswa, materi, metode, dalam masalah belajar-mengajar terdapat beberapa
macam-macam kegiatan yang memerlukan prinsip psikologis, yaitu (a) Seleksi
penerimaan siswa baru; (b) Perencanaan pendidikan; (c) Penyusun kurikulum; (d)
Penelitian kependidikan; (e) Administrasi kependidikan; (f) Pemilihan materi
pelajaran; (g) Interaksi belajar-mengajar; (h) Pelayanan bimbingan dan
konseling; dan (i) Evaluasi belajar.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
secara keseluruhan psikologi pendidikan berperan dalam membantu pendidik untuk
merencanakan, mengatur dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Dalam buku Condition of Learning, Gagne (1997)
mengemukakan sembilan prinsip yang dapat dilakukan guru dalam melaksanakan
pembelajaran, sebagai berikut:
1.
Menarik perhatian (gaining
attention): Hal yang menimbulkan minat siswa dengan
mengemukakan sesuatu yang baru, aneh, kontradiksi, atau kompleks.
2.
Menyampaikan tujuan
pembelajaran (informing learner of the objectives): Memberitahukan kemampuan yang harus dikuasai siswa
setelah selesai mengikuti pelajaran.
3.
Mengingatkan
konsep/prinsip yang telah dipelajari (stimulating recall or prior learning): Merangsang ingatan tentang pengetahuan yang telah
dipelajari yang menjadi prasyarat untuk mempelajari materi yang baru.
4.
Menyampaikan materi
pelajaran (presenting the stimulus): Menyampaikan materi-materi pembelajaran yang telah
direncanakan.
5.
Memberikan bimbingan
belajar (providing learner guidance): Memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membimbing
proses/alur berpikir siswa agar memiliki pemahaman yang lebih baik.
6.
Memperoleh
kinerja/penampilan siswa (eliciting performance): Siswa diminta untuk
menunjukkan apa yang telah dipelajari atau penguasaannya terhadap materi.
7.
Memberikan balikan (proaviding
feedback): Memberitahu seberapa jauh ketepatan performance siswa.
8.
Menilai hasil belajar (assessing
performance): Memberitahukan
tes/tugas untuk mengetahui seberapa jauh siswa menguasai tujuan pembelajaran.
9.
Memperkuat retensi dan
transfer belajar (enhancing retention and transfer): Merangsang kamampuan mengingat-ingat dan
mentransfer dengan memberikan rangkuman, mengadakan review atau mempraktekkan apa yang telah dipelajari.
Eksperimen Para Ahli Teori belajar
Psikologi
Seorang pendidik sebelum menerapkan
ilmu psikologi yang dimiliki, tentunya harus tahu dan paham betul akan teori
dan eksperimen-eksperimen yang dilakukan para ahli psikologi terdahulu agar
dapat menunjang pendidik untuk melakukan pengajaran kepada perserta didik
mereka.
1. Classical Conditioning – Ivan Pavlov; Dari eksperimen
yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya:
· Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang
dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang
salah satunya berfungsi sebagai reinforcer),
maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
· Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang
dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning
itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer,
maka kekuatannya akan menurun.
2. Operant
Conditioning - B.F. Skinner; Dari eksperimen
yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati
menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
· Law of operant
conditining yaitu timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
· Law of operant
extinction yaitu timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan
perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud
dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama
terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa
didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu
sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya
sejumlah respons tertentu, namun
tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical
conditioning.
3.
Social Learning - Albert Bandura;
Teori belajar
sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah
teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar
lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang
Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang
timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu
itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam
belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih
memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment,
seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang
perlu dilakukan.
4.
Teori Belajar Kognitif – Jean
Piaget; Piaget mengemukakan bahwa belajar
akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif
peserta didik, (1) sensory
motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal
operational. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan
eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman
sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak
memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan
lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Implikasi teori perkembangan
kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah:
·
Bahasa dan cara berfikir anak berbeda
dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa
yang sesuai dengan cara berfikir anak.
·
Anak-anak akan
belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus
membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
·
Bahan yang
harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
·
Berikan peluang
agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
·
Di dalam kelas,
anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan
teman-temanya.
Hal-Hal
yang Diharapkan dari Pembelajaran Psikologi Pendidikan
Dengan
memahami psikologi pendidikan, seorang pendidik melalui
pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat:
a. Merumuskan tujuan
pembelajaran secara tepat;
Dengan
memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan pendidik akan dapat lebih
tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai
tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom
tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori
perkembangan individu.
b. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai;
Dengan
memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan pendidik dapat menentukan
strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu
mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan
gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
c. Memberikan bimbingan atau
bahkan memberikan konseling;
Tugas dan
peran pendidik, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat
membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya
diharapkan pendidik dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar,
melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
d. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik;
Memfasilitasi
artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa,
seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan
berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu,
khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai,
tampaknya pendidik akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai
fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
e. Menciptakan iklim belajar
yang kondusif;
Efektivitas
pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Pendidik dengan
pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat
menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa
dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
f.
Berinteraksi
secara tepat dengan siswanya;
Pemahaman
pendidik tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi
dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang
menyenangkan di hadapan siswanya.
g. Menilai hasil pembelajaran
yang adil;
Pemahaman
pendidik tentang psikologi pendidikan dapat mambantu pendidik dalam
mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis
penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil
penilaian.
Dalam melakukan proses
pembelajaran di kelas maupun membimbing peserta didik, guru harus memperhatikan segala
aspek psikologis
peserta didik tersebut, baik itu perkembangan, ingatan, memori dan
pola berpikir anak. Hal ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan dan
mengembangkan potensi yang ada pada siswa agar mereka mampu tumbuh dan perkembang sesuai dengan
harapan orang tua, guru dan masyarakat. Permasalahan yang ada pada anak hendaknya melibatkan komponen orang tua,
guru, masyarakat dan konsuler
dalam penyelesaiannya.
Guru harusnya memahami bahwa
kesuksesan anak itu bukan hanya mampu mendapatkan nilai yang tinggi tetapi juga
mampu mengembangan nilai spritual (kecerdasan spritual) dan kecerdasan emosi. Dua
hal ini terkadang mampu membawa kesuksesan terhadap anak dalam
kehidupan di masyarakat. Dalam belajar haruslah
diperhatikan faktor yang mempebaruhi sisiwa dalam memperoleh dan
mengingat pengetahuan. Oleh sebab itu, pendidik haruslah memperhatikan hal
tersebut dalam melakukan pembelajaran dikelas, karena dengan memperhatikan hal
tersebut pengetahuan yang diberikan oleh guru akan menjadi ingatan yang setia
dalam memori siswa.
Psikologi
pendidikan sebagai suatu ilmu pengetahuan merupakan suatu keharusan di
lembaga-lembaga pendidikan guru/pendidik. Dan penegasan ini pun mendasarkan
atas dua dimensi pemikiran. Pertama,
sifat dan jenis belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya yang kemudian
dapat diidentifikasikan secara meyakinkan. Kedua,
pengetahuan yang serupa itu dapat disistematisasikan dan disampaikan secara
efektif kepada para calon pendidik/guru. Dari kedua dimensi pemikiran inilah
para calon pendidik dapat mengambil manfaat dan keuntungannya. Walaupun
demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan
satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi
pendidik yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain,
bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi
pengajaran.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan
sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, sekaligus juga proses interaksi
antara peserta didik dan pendidik dalam suatu lingkungan tertentu. Senantiasa
tidak bisa dipisahkan dari psikologi. Karena memang obyek dari pendidikan itu
sendiri adalah individu manusia yang memiliki perilaku, karakteristik dan
kemampuan yang berbeda satu sama lain. Di sinilah peran penting psikologi
sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam
berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, wajib bagi suatu lembaga
yang mencetak kader-kader pendidik/guru untuk memberikan ilmu pengetahuan
psikologi kepada mereka calon pendidi tersebut.
B. Saran
Adapun untuk
para pendidik/guru sudah selayaknya menguasai ilmu psikologi ini, agar dalam
proses belajar mengajar bisa meminimalisir kegagalan dalam penyampaian materi
pelajarannya. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan
bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang
bisa menjadi pendidik/guru yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan
lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta
penguasaan metodologi pengajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Sahabuddin. 2007. Mengajar dan Belajar. Makassar: Badan
Penerbit UNM.
Subrata, Sumadi. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Thalib,
Syamsul Bachri. 2010. Psikologi
pendidikan berbasis analisis empiris empiris aplikatif. Jakarta : Kencana.