Jumat, 06 Desember 2013

KETERAMPILAN BERBAHASA



KETERAMPILAN BERBAHASA


A.     KETERAMPILAN BERBAHASA
Keterampilan berbahasa indonesia mencakup: keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan menulis, dan keterampilan membaca. Keterampilan berbahasa sangat penting dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi. Komunikasi dapat berupa komunikasi satu arah, komunikasi dua arah, dan multi arah.
v  Komunikasi satu arah terjadi ketika seseorang mengirim pesan kepada orang lain, sedangkan penerima pesan tidak menanggapi pesan tersebut, seperti khotbah, dan berita TV dan radio.
v  Komunikasi dua arah terjadi ketika seseorang mengirim pesan (mengeluarkan ide, gagasan, pendapat) dan penerima pesan (pendengar) menanggapi isi pesan.
v  Komunikasi multi arah ketika pemberi pesan dan penerima pesan yang jumlahnya lebih dari dua orang yang menanggapi. (Abd. Gafur, 1:2009)
Dalam kegiatan komunikasi, pengirim pesan aktif mengirim pesan yang diformulasikan dalam lambang-lambang berupa bunyi atau tulisan, proses ini disebut dengan encoding. Selanjutnya si penerima pesan aktif menerjemahkan lambang-lambang tersebut menjadi menjadi bermakna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh, proses ini disebut decoding.

B.     ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA
Sehubungan dengan penggunaan bahasa, terdapat empat keterampilan dasar yaitu : menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Keempat keterampilan tersebut saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya.
  1. Menyimak adalah suatu proses suatu proses kegiatan mendengarkan lambing lisan-lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interprestasi untuk memperoleh informasih, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
  2. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan , ide dan perasaan.
  3. Membaca yaitu suatu proses penyerapang informasih dari sebuah karya tulis untuk mengetahui informasih yang ingin disampaikan penulis.
  4. Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut (Bryne, 1993)
Lebih lanjut Bryne menyatakan bahwa mengarang pada hakikatnya bukan sekedar menulis simbol-simbol sehingga berbentuk kata, dan kata-kata tersusun menjadi kalimat menurut peraturan tertentu, akan tetapi mengarang adalah menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap dan jelas sehingga buah pikiran tersebut dapat dikomunikasikan kepada pembaca.

a.      Hubungan menyimak dan berbicara
Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung. Menyimak bersifat reseftif, sedangkan berbicara bersifat produktif. Misalnya komunikasi yang terjadi antar teman, antar penjual dan pembeli, atau dalam sebuah forum diskusi. Dalam hal ini  A berbicara dan B mendengarkan. Setelah itu giliran B yang berbicara dan A yang mendengarkan. Namun adapula dalam suatu konteks bahwa komunikasi itu terjadi dalam situasi noninteraktif, yaitu suatu pihak saja yang berbicara dan pihak lain hanya mendengarkan. Misalnya khotbah di masjid, dimana penceramah menyampaikan ceramahnya, sedangkan yang lain hanya mendengarkan. Keterampilan menyimak merupakan kegiatan yang paling awal dilakukan oleh manusia bila dilihat dari pross pemerolehan bahasa. Secara berturut- turut pemerolehan keterampilan berbahasa itu pada umumnya dimulai dari menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Kegiatan menyimak di awali dengan mendengarkan dan pada akhirnya memahami apa yang disimak. Untu memahami isi bahan simakan diperlukan suatu proses berikut : mendengarkan, mengidentifikasi, menginterprestasi atau menafsirkan, memahami, menilai, dan yang terakhir menanggapi apa yang disimak. Dalam hal ini menyimak memiliki tujuan yang berbeda-beda yaitu untuk : mendafatkan fakta, mengevaluasi fakta, mendapat inspirasi, menghibur diri, dan meningkatkan kemampuan berbicara.
Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiaatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, telponan, tanya jawab dll. Tidak ada gunanya orang berbicara bila tidak ada orang yang menyimak, tidak mungkin orang menyimak bila tidak ada orang yang berbicara.

b.      Hubungan menyimak dan membaca
Menyimak dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat resesif. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan membaca merupakan aktifitas berbahasa ragam tulis. Penyimak maupun pembaca melakukan aktivitas pengidentifikasian terhadap unsur-unsur bahasa yang berupa suara (menyimak), maupun berupa tulisan (membaca) yang selanjutnya diikuti dengan proses decoding guna guna memperoleh pesan yang berupa konsep, ide, atau informasih.

c.       Hubungan menyimak dan menulis
Menulis dan menyimak merupakan aktifitas berbahasa, dimana keterampilan menyimak bersifat reseptif, dan menulis adalah bersifat produktif. Antara menyimak dan menulis memiliki hubungan yang erat dari menyimak sutu ujaran atau informasih dapat menumbuhkan kratifitas untuk menulis hasil simakan yang diperoleh. Dan dituangkan dalam suatu karya tulis, baik itu cerpen, puisi , prosa, dll.

d.      Hubungan membaca dan menulis
Membaca dan menulis merupakan aktifitas berbahasa ragam tulis. Menulis adalah kegiatan berbahasa yang bersifat produktif, sedangkan membaca adalah kegiatan yang bersifat reseptif. Seorang penulis menyampaikan gagasan, perasaan, atau informasih dalm bentuk tulisan. Sebaliknya seorang pembaca mecoba memahami gagasan, perasaan, atau informasih yang disajikan dalam bentuk tulisan.

e.       Hubungan menulis dan berbicara
Berbicara dan menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif. Berbicara merupakan kegiatan ragam lisan, sedangkan menulis merupakan kegiatan berbhasa ragam tulis. Menulis pada umumnya merupakan kegiatan berbahasa tak langsung, sedangkan berbicara merupakan kegiatan bahasa yang bersifat langsung. Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu proses berkomunikasi yang dalam proses itu terjadi pemindahan pesan dari suatu pihak (komunikator) ke pihak lain (komunikan). Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan lebih dahulu diubah ke dalam simbol-simbol yang dipahami oleh kedua belah pihak (Abd. Gafur, 6 :2009). Aspek-aspek yang dinilai pada kegiatan berbicara terdiri atas aspek kebahasaan dan non kebahasaan.
Aspek kebahasaan terdiri atas: ucapan atau lafal, tekanan kata, nada, dan irama persendian, kosa kata atau ungkapan dan variasi kalimat atau struktur kalimat.
Aspek nonkebahasaan terdiri atas: kelancaran, penguasaan materi, keberanian, keramahan, ketertiban, semangat dan sifat.

Selasa, 19 November 2013

Nilai-nilai pancasila sebagai dasar negara



NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA DAN DASAR NEGARA
Oleh: Azizah Niken Mawar*)
Ideologi berasal dari kata idea (Inggris), yang artinya gagasan, pengertian. Kata kerja Yunani oida = mengetahui, melihat dengan budi. Kata “logi” yang berasal dari bahasa Yunani logos yang artinya pengetahuan. Jadi Ideologi mempunyai arti ilmu tentang terjadinya cita-cita, gagasan, atau buah pikiran. Dalam pengertiannya nilai pancasila merupakan sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia yang pada hakikatnya melekat pada suatu objek.  Sesuatu mengandung nilai artinya ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu itu atau dengan lain nilai pancasila merupakan kenyataan tersembunyi dibalik kenyataan-kenyataan lainnya. Dalam perkembangannya terdapat macam-macam nilai yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Pertama macam-macam nilai menurut prof.Dr. Notonegoro,nilai dibagi menjadi 3 bagian yaitu : nilai material, nilai vital dan nilai kerohanian. Walter G. Everett, mengemukakan nilai dibagi menjadi 8 bagian yaitu: nilai ekonomi, nilai  rekreasi, nilai perserikatan, nilai kejasmanian, nilai watak, nilai etis, nilai intelektual, dan nilai keagamaan
PERBANDINGAN NILAI PANCASILA YANG BERSIFAT OBJEKTIF DAN SUBJEKTIF
Nilai - nilai pancasila sebagai ideologi bersifat objektif dan subjektif.Artinya hakikat nilai pancasila bersifat universal(berlaku dimanapun).
NILAI PANCASILA BERSIFAT OBJEKTIF
1)   Rumusan dari nilai-nilai pancasila itu sendiri memiliki makna yang terdalam menunjukkan adanya sifat-sifat yang umum universal dan abstrak karena merupakan suatu nilai.
2)   Inti dari dalam nilai pancasila akan tetap ada sepanjang masa dalam kehidupan berbangsa indonesia baik dalam adat kebiasaan, kebudayaan, kenegaraan maupun dalam kehidupan keagamaan.
3)   Pancasila yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 sebagai pokok kaidah negara yang mendasar, sehingga merupakan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.
NILAI PANCASILA BERSIFAT SUBJEKTIF
1)   Nilai-nilai pancasila timbul dari bangsa indonesia, sehingga bagsa indonesia sebagai penyebab adanya nilai-nilai tersebut.
2)   Nilai-nilai pancasila merupakan pandangan hidup bangsa indonesia, sehingga merupakan jati diri bangsa yang diyakini sebagai sumber atas nilai kebenaran,kebaikan,kebijaksanaan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3)   Nilai-nilai pancasila di dalamnya terkandung nilai-nilai kerohanian yaitu nilai kebenaran, keadilan, kebijaksanaan, etis, estetis, dan nilai religius yang sesuai dengan hati nurani bangsa indonesia dikarenakan bersumber pada kepribadian bangsa.
Oleh karena nilai-nilai pancasila yang bersifat objektif dan subjektif tersebut maka nilai-nilai pancasila bagi bangsa indonesia menjadi landasan, menjadi dasar serta semangat bagi segala tindakan atau perbuatan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian nilai pancasila menjadi ideologi yang tidak diciptakan oleh negara melainkan digali dari kekayaan rohani moral dari bangsa indonesia itu sendiri.
Sebagai nilai-nilai yang digali dari kekayaan rohani,moral,dan budaya masyarakat indonesia sendiri maka nilai-nilai pancasila akan selalu berkembang mengikuti perkembangan masyarakat indonesia. Sebagai ideologi yang tidak diciptakan oleh negara, menjadikan pancasila sebagai ideologi juga merupakan kerohanian bagi tertib hukum indonesia dan meliputi suasana kebatinan (geistlichenhintergrund) dari undang-undang dasar 1945 serta mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar negara. Pancasila sebagai sumber nilai mengharuskan undang-undang dasar mengandung isi yang mewajibkan pemerintah, penyelenggara negara termasuk pengurus partai dan golongan fungsional untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang cita-cita moral rakyat luhur.


NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA
Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara menjadikan setiap tingkah laku para penyelenggara negara dan pelaksana pemerintahan harus selalu berpedoman pada Pancasila. Pancasila sebagai sumber nilai menunjukkan identitas bangsa Indonesia yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, hal ini menandakan bahwa dengan Pancasilamenolak segala penindasan dan penjajahan.
Pancasila juga sebagai paradigma bangunan, artinya sebagai kerangka pikir, sumber nilai, orientasi dasar, sumber asas serta arah dan tujuan dari suatu perkembangan perubahan serta proses dalam suatu bidang tertentu.Pancasila mengarahkan pembangunan agar selalu dilaksanakan demi kesejahteraan umat manusia dengan rasa nasionalisme, kebesaran bangsa dan keluhuran bangsa. Pembangunan di segala bidang selalu mendasar pada nilai-nilai Pancasila.










KESIMPULAN
Nilai-nilai pancasila yang terkandung di dalam nya merupakan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.Nilai-nilai pancasila sebagai sumber nilai bagi manusia Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, maksudnya sumber acuan dalam betingkah laku dan bertindak dalam menetukan dan menyusun tata aturan hidup berbangsa dan bernegara.Dengan demikian nilai-nilai pancasila menjadi ideologi yang tidak diciptakan oleh negara, melainkan digali dari harta kekayaan rohani moral dan budaya masyarakat Indonesia sendiri.Sebagai ideologi yang tidak diciptakan oleh negara menjadikan pancasila sebagai ideologi juga merupakan sumber Indonesia dan meliputi suasana kebatinan dari undang –undang nilai sehingga pancasila merupakan asa kerohanian bagi tertib hukum  Indonesia dan meliputi suasana kebatinan dari undang undang dasar 1945 serata mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar negara.
Dasar Negara adalah landasan kehidupan bernegara. Setiap negara harus mempunyai landasan dalam melaksanakan kehidupan bernegaranya. Dasar negara bagi suatu negara merupakan sesuatu yang amat penting. Negara tanpa dasar negara berarti negara tersebut tidak memiliki pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara, maka akibatnya negara tersebut tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas, sehingga memudahkan munculnya kekacauan. Dasar Negara sebagai pedoman hidup bernegara mencakup cita-cita negara, tujuan negara, norma bernegara. Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara menjadikan setiap tingkah laku dan setiap pengambilan keputusan para penyelenggara negara dan pelaksana pemerintahan harus selalu berpedoman pada Pancasila, dan tetap memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur serta memegang teguh cita-cita moral bangsa.Pancasila sebagai sumber nilai menunjukkan identitas bangsa Indonesia yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, hal ini menandakan bahwa dengan Pancasila bangsa Indonesia menolak segala bentuk penindasan, penjajahan darisatu bangsa terhadap bangsa yang lain.

















DAFTAR PUSTAKA
Rukiyati,M.Hum.,dkk.2008.pendidikan pancasila.Yogyakarta:UNY press
Khairinisa Nabila Adriani.2010.Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Ideologi. (online) (http://splashurl.com/lqk3xbj about pancasila.blogspot.com/2010/nilai-nilai-pancasila-sebagai-ideologi.html, diakses pada tanggal 17 mei 2013)
Dangstars.2013.Pancasila Sebagai Dasar negara Dan Ideologi. (online) (http: //dangstars.blogspot.com/2013/04/04/pancasila-sebagai-dasar-negara-dan-ideologi.html, diakses tanggal 21 mei 2013)

Jumat, 15 November 2013

Peranan Psikologi Pendidikan Bagi Guru



MAKALAH
PERANAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI GURU
Untuk Memenuhi Tugas Mata kuliah: Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu: Dra. Nur Wahyumiani, M.A

upy-color


Oleh:
1.     Daniel Hermawan               12144600015
2.     Azizah Niken Mawar                   12144600018
3.     Fatchurahman                              12144600038




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2013


KATA PENGANTAR
           
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar. Semoga dengan terselesainya pelaksanaan hingga penulisan makalah ini sebagai titik awal langkah menuju perbaikan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Selama pembuatan makalah ini telah banyak mendapat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin sampaikan ucapan terimakasih kepada:
1.      Ibu Dra. Nur Wahyumiani M.A selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi pendidikan.
2.      Orang tua yang selalu memberikan dukungan dalam pembuatan makalah ini.
3.      Serta teman-teman kelas A1-12 PGSD yang senatiasa saling bertukar pikiran dalam pembuatan makalah ini.
            Atas dukungan, bantuan, dan bimbingan selama penulis membuat makalah ini sehingga bisa terselesaikan.
            Masih banyak sekali terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini, maka penulis memohon dengan segala kerendahan hati untuk memberikan kritik dan saran. Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
                                                                                          Yogyakarta, 01 Oktober 2013
                                                                                           
                                                                                                       Penulis







BAB I
Latar Belakang
Realitas globalisasi dan modernisasi dilengkapi dengan perkembangan teknologi yang begitu pesatnya, diakui atau tidak telah memberi dampak negatif yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan dampak positif yang ditimbulkan terhadap perkembangan para generasi bangsa ini. Tujuan pendidikan Nasional sebagaimana telah diamanatkan oleh Undang Undang Dasar 1945 adalah sebagai upaya mencerdaskan generasi-generasi bangsa yang nantinya akan menjadi penerus perjuangan generasi terdahulu dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia menuju bangsa yang berbudi luhur dan berkesejahteraan sosial.
Namun demikian, untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 diatas, bukanlah merupakan suatu hal yang mudah untuk diraih. Dampak negatif dari globalisasi, modernisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesatnya terhadap perkembangan generasi-generasi bangsa ini tentunya bukan merupakan rahasia lagi. Hampir setiap hari masyarakat di seluruh pelosok Indonesia disuguhi dengan informasi-informasi mengenai pelajar yang membolos sekolah dan keluyuran di jalanan atau berada di tempat penyewaan PS (Play Station), pelajar yang terlibat perkelahian, pelajar yang terlibat perilaku seks bebas, pelajar yang terlibat penyalahgunaan narkoba dan masih banyak lagi.
Realitas perilaku para pelajar sebagaimana telah digambarkan di atas, jelas sangat menuntut keterampilan para tenaga pendidik dalam memahami perkembangan psikologis, kognitif, afektif, dan psikomotorik para pelajar jika menginginkan para pelajar tersebut tidak gagal di bangku sekolah dan tidak kehilangan masa depan mereka. Di sinilah pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi para tenaga pendidik. Guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik bagi peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.



B.     Rumusan Masalah
1.     Apakah pengertian psikologi pendidikan?
2.   Bagaimana peranan guru terhadap peserta didik
3.      Bagaimana peran psikologi pendidikan bagi guru?

C.    Tujuan
1.      Menjelaskan pengertian psikologi pendidikan.
2.   Menjelaskan peranan guru teradap peserta didik.
3.      Mengetahui peran psikologi pendidikan bagi guru


























BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Psikologi Pendidikan
Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari  tentang perilaku manusia di dalam dunia pendidikan yang meliputi  studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk mengembangkan dan meningkatkan koefisien di dalam pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari dua definisi ini maka jelas fokus dari psikologi pendidikan adalah proses belajar mengajar.
Psikologi pendidikan dapat juga dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
·         Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
·         Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
·         Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.


Arthur S. Reber mengatakan bahwa psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas, pengembangan dan pembaharuan kurikulum, ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan, sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif, dan penyenggaraan pendidikan keguruan. Glover dan Ronning (dalam Online) psikologi pendidikan sebagai penerapan ilmu dan metode-metode psikologi untuk studi perkembangan, belajar, motivasi belajar, pengajaran assesmen dan aspek-aspek psikologi lainnya yang berkaitan dengan isu-isu yang berpengaruh dan berinteraksi dengan proses belajar dan pembelajaran.
Duffy dan Roehler (1989) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Menurut Winkel (1991, dalam Online) pembelajaran adalah separangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dan dialami siswa.
Dariyanto S.S, Kamus Bahasa Indonesia, (1997), pengajaran adalah proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan perihal mengajar, segala sesuatu mengenai mengajar, peringatan (tentang pengalaman, peristiwa yang dialami atau dilihatnya). Pengajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Pengajaran juga
diartikan sebagi interaksi belajar dan mengajar. Pengajaran berlangsung sebagai suatu proses yang saling mempengaruhi antara guru dan siswa.
Pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, tidak akan mungkin dapat dilepaskan dari psikologi. Karena dalam pendidikan berhubungan erat dengan manusia. Jika kita membicarakan tentang manusia, maka akan banyak ilmu pengetahuan yang muncul berkaitan dengan eksistensi manusia


B.Peranan Guru Terhadap Peserta didik
      Guru adalah orang yang membantu orang lain belajar,mendesain materi pelajaran,membuat pekerjaan rumah,mengevaluasi prestasi siswa,dan mengatur kedisiplinan.Dengan banyaknya tugas guru sehingga dalam proses pembelajaran guru memilik banyak peran,antara lain:
·         Guru sebagai ahli instruksional,artinya guru harus secara tetap membuat keputusan tentang materi pelajaran dan metodenya. Keputusan ini didasarkan sejumlah factor yang meliputi mata pelajaran yang akan disampaikan,kebutuhan dan kemampuan siswa,serta seluruh tujuan yang akan dicapai.
·         Guru sebagai motivator,artinyatidak ada satupun guru yang dapat berhasil mengajar secara otomatis,karena siswa juga harus berbuat dan bertindak.Salah satu hal yang harus dilakukan  guru yang paling penting adalah menyampaikan motivasi baik disampaikan pada permulaan tahun ajaran baru tetapi  juga pada saat saat diperlukan
·         Guru sebagai manager,artinya sebagian besar guru SD menghabiskan waktu rata rata 30% sehari untuk berinteraksi langsung dengan siswa.Di SMP,persentasenya lebih tinggi lagi untuk di sekolah.Dalam waktu 24 jam dia harus terampil mengatur waktu untuk mengelola sekolah jika mereka ingin menikmati waktu senggang dengan keluarga.
·         Guru sebagai konselor,artinya walaupun guru tidak diharapkan bertindak sebagai konselor,mereka harus sensitive dalam mengobservasi tingkah laku siswa.Mereka harus mencoba merespon secara konstruktif ketika emosi siswa mulai mengganggu belajar,dan mereka harus tahu jika ada siswa yang membutuhkan bantuan ahli jiwa.
·         Guru sebagai model,artinya tidak menjadi soal apa yang kita lakukan sebagai seorang guru,kita akan berakting sebagai model bagi siswa siswa kita.Misalkan guru guru secara tetap bertindak sebagai model dalam menunjukkan bagaimana kita berfikir untuk menyelesaikan masalah.Jika mereka melibatkan siswa siswa untuk memilih alternative penyelesaian ,maka siwa akan belajar bahwa mereka sendiri mampu menghadapi masalah masalah itu.



C.    Peran  Psikologi Pendidikan Bagi Guru
Peran psikologi pendidikan bagi pendidik yaitu menjadikan pendidik lebih terbuka terhadap perbedaan individu karena setiap individu (siswa) itu berbeda, maka pendidik tidak bisa menyamaratakan intelegensi maupun kecakapan mereka. Mungkin saja satu anak tidak pandai dalam pelajaran Matematika tetapi pandai dalam menggambar, atau anak yang lain tidak pandai dalam menggambar tetapi pandai menyanyi. Pendidik mengetahui metode mengajar yang efektif karena setelah mengerti dengan perbedaan masing-masing individu, pendidik haruslah mampu menggunakan metode belajar yang mana untuk mengajar siswanya.
Pendidik memahami permasalahan anak didik karena selain mengajarkan ilmu kepada peserta didik, sedikit banyaknya harus tahu masalah yang dihadapi peserta didik. Bisa saja siswa yang sering tertidur di kelas bukan karena  malas, tapi harus membantu orang tuanya berjualan hingga larut malam, sehingga saat waktu jam belajar ia mengantuk.

Peran mempelajari psikologi pendidikan bagi pendidik maupupun calon pendidik dapat dibagi menjadi dua aspek, yaitu:

a.      Untuk Mempelajari Situasi Dalam Proses Pembelajaran
Psikologi pendidikan memberikan banyak kontribusi kepada pendidik dan calon pendidik untuk meningkatkan efisiensi proses pembelajaran pada kondisi yang berbeda-beda seperti di bawah ini:
     1)      Memahami Perbedaan Individu (Peserta Didik);
Seorang pendidik harus berhadapan dengan sekelompok siswa di dalam kelas dengan hati-hati karena karakteristik masing-masing siswa berbeda-beda. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami perbedaan karakteristik siswa tersebut pada berbagai tingkat pertumbuhan dan perkembangan guna menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Psikologi pendidikan dapat membantu pendidik dan calon pendidik dalam memahami perbedaan karakteristik siswa tersebut.


2)      Penciptaan Iklim Belajar yang Kondusif di Dalam Kelas;
Pemahaman yang baik tentang ruang kelas yang digunakan dalam proses pembelajaran sangat membantu pendidik untuk menyampaikan materi kepada siswa secara efektif. Iklim pembelajaran yang kondusif harus bisa diciptakan oleh pendidik sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan efektif. Seorang pendidik harus mengetahui prinsip-prinsip yang tepat dalam proses belajar mengajar, pendekatan yang berbeda dalam mengajar untuk hasil proses belajar mengajar yang lebih baik. Psikologi pendidikan berperan dalam membantu pendidik agar dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga proses pembelajaran di dalam kelas bisa berjalan efektif.
3)      Pemilihan Strategi dan Metode Pembelajaran;
Metode pembelajaran didasarkan pada karakteristik perkembangan siswa. Psikologi pendidikan dapat membantu pendidik dalam menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami peserta didik.
4)      Memberikan Bimbingan kepada Peserta Didik;
Seorang pendidik harus memainkan peran yang berbeda di sekolah, tidak hanya dalam pelaksanaan pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai pembimbing bagi peserta didik. Bimbingan adalah jenis bantuan kepada siswa untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan memungkinkan pendidik untuk memberikan bimbingan pendidikan dan kejuruan yang diperlukan untuk siswa pada tingkat usia yang berbeda-beda.
5)      Mengevaluasi Hasil Pembelajaran;
Pendidik harus melakukan dua kegiatan penting di dalam kelas seperti mengajar dan mengevaluasi. Kegiatan evaluasi membantu dalam mengukur hasil belajar siswa. Psikologi pendidikan dapat membantu pendidik dan calon pendidik dalam mengembangkan evaluasi pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis evaluasi, pemenuhan prinsip-prinsip evaluasi maupun menentukan hasil-hasil evaluasi.

b.      Untuk Penerapan Prinsip-prinsip Belajar Mengajar
1)      Menetapkan Tujuan Pembelajaran;
Tujuan pembelajaran mengacu pada perubahan perilaku yang dialami siswa setelah dilaksanakannya proses pembelajaran. Psikologi pendidikan membantu pendidik dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran.
2)      Penggunaan Media Pembelajaran;
Pengetahuan tentang psikologi pendidikan diperlukan pendidik untuk merencanakan dengan tepat media pembelajaran yang akan digunakan. Misalnya penggunaan media audio-visual, sehingga dapat memberikan gambaran nyata kepada peserta didik.
3)      Penyusunan Jadwal Pelajaran;
Jadwal pelajaran harus disusun berdasarkan kondisi psikologi peserta didik. Misalnya mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa seperti matematika ditempatkan di awal pelajaran, di mana kondisi siswa masih segar dan semangat dalam menerima materi pelajaran.
Menurut Chaplin (1972, dalam Online), untuk membantu memcahkan masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan yang meliputi guru, siswa, materi, metode, dalam masalah belajar-mengajar terdapat beberapa macam-macam kegiatan yang memerlukan prinsip psikologis, yaitu (a) Seleksi penerimaan siswa baru; (b) Perencanaan pendidikan; (c) Penyusun kurikulum; (d) Penelitian kependidikan; (e) Administrasi kependidikan; (f) Pemilihan materi pelajaran; (g) Interaksi belajar-mengajar; (h) Pelayanan bimbingan dan konseling; dan (i) Evaluasi belajar.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan psikologi pendidikan berperan dalam membantu pendidik untuk merencanakan, mengatur dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Dalam buku Condition of Learning, Gagne (1997) mengemukakan sembilan prinsip yang dapat dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran, sebagai berikut:
1.      Menarik perhatian (gaining attention): Hal yang menimbulkan minat siswa dengan mengemukakan sesuatu yang baru, aneh, kontradiksi, atau kompleks.
2.      Menyampaikan tujuan pembelajaran (informing learner of the objectives): Memberitahukan kemampuan yang harus dikuasai siswa setelah selesai mengikuti pelajaran.
3.      Mengingatkan konsep/prinsip yang telah dipelajari (stimulating recall or prior learning): Merangsang ingatan tentang pengetahuan yang telah dipelajari yang menjadi prasyarat untuk mempelajari materi yang baru.
4.      Menyampaikan materi pelajaran (presenting the stimulus): Menyampaikan materi-materi pembelajaran yang telah direncanakan.
5.      Memberikan bimbingan belajar (providing learner guidance): Memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membimbing proses/alur berpikir siswa agar memiliki pemahaman yang lebih baik.
6.      Memperoleh kinerja/penampilan siswa (eliciting performance): Siswa diminta untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari atau penguasaannya terhadap materi.
7.      Memberikan balikan (proaviding feedback): Memberitahu seberapa jauh ketepatan performance siswa.
8.      Menilai hasil belajar (assessing performance): Memberitahukan tes/tugas untuk mengetahui seberapa jauh siswa menguasai tujuan pembelajaran.
9.      Memperkuat retensi dan transfer belajar (enhancing retention and transfer): Merangsang kamampuan mengingat-ingat dan mentransfer dengan memberikan rangkuman, mengadakan review atau mempraktekkan apa yang telah dipelajari.

Eksperimen Para Ahli Teori belajar Psikologi
Seorang pendidik sebelum menerapkan ilmu psikologi yang dimiliki, tentunya harus tahu dan paham betul akan teori dan eksperimen-eksperimen yang dilakukan para ahli psikologi terdahulu agar dapat menunjang pendidik untuk melakukan pengajaran kepada perserta didik mereka.
1.      Classical Conditioning – Ivan Pavlov; Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
·         Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
·         Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
2.      Operant Conditioning - B.F. Skinner; Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
·         Law of operant conditining yaitu timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
·         Law of operant extinction yaitu timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
3.      Social Learning - Albert Bandura; Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.






4.      Teori Belajar Kognitif Jean Piaget; Piaget mengemukakan bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik, (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah:
·          Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
·         Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
·         Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
·         Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
·         Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

   Hal-Hal yang Diharapkan dari Pembelajaran Psikologi Pendidikan
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang pendidik melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat:
a.       Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat;
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan pendidik akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.

b.      Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai;
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan pendidik dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
c.       Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling;
Tugas dan peran pendidik, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan pendidik dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
d.      Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik;
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya pendidik akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
e.       Menciptakan iklim belajar yang kondusif;
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Pendidik dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
f.        Berinteraksi secara tepat dengan siswanya;
Pemahaman pendidik tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
g.      Menilai hasil pembelajaran yang adil;
Pemahaman pendidik tentang psikologi pendidikan dapat mambantu pendidik dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.
Dalam melakukan proses pembelajaran di kelas maupun membimbing peserta didik, guru harus memperhatikan segala aspek psikologis peserta didik tersebut, baik itu perkembangan, ingatan, memori dan pola berpikir anak. Hal ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan dan mengembangkan potensi yang ada pada siswa agar mereka mampu tumbuh dan perkembang sesuai dengan harapan orang tua, guru dan masyarakat. Permasalahan yang ada pada anak hendaknya melibatkan komponen orang tua, guru, masyarakat dan konsuler dalam penyelesaiannya.
Guru harusnya memahami bahwa kesuksesan anak itu bukan hanya mampu mendapatkan nilai yang tinggi tetapi juga mampu mengembangan nilai spritual (kecerdasan spritual) dan kecerdasan emosi. Dua hal ini terkadang mampu membawa kesuksesan terhadap anak dalam kehidupan di masyarakat. Dalam belajar haruslah diperhatikan faktor yang mempebaruhi sisiwa dalam memperoleh dan mengingat pengetahuan. Oleh sebab itu, pendidik haruslah memperhatikan hal tersebut dalam melakukan pembelajaran dikelas, karena dengan memperhatikan hal tersebut pengetahuan yang diberikan oleh guru akan menjadi ingatan yang setia dalam memori siswa.
Psikologi pendidikan sebagai suatu ilmu pengetahuan merupakan suatu keharusan di lembaga-lembaga pendidikan guru/pendidik. Dan penegasan ini pun mendasarkan atas dua dimensi pemikiran. Pertama, sifat dan jenis belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya yang kemudian dapat diidentifikasikan secara meyakinkan. Kedua, pengetahuan yang serupa itu dapat disistematisasikan dan disampaikan secara efektif kepada para calon pendidik/guru. Dari kedua dimensi pemikiran inilah para calon pendidik dapat mengambil manfaat dan keuntungannya. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi pendidik yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi pengajaran.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, sekaligus juga proses interaksi antara peserta didik dan pendidik dalam suatu lingkungan tertentu. Senantiasa tidak bisa dipisahkan dari psikologi. Karena memang obyek dari pendidikan itu sendiri adalah individu manusia yang memiliki perilaku, karakteristik dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Di sinilah peran penting psikologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, wajib bagi suatu lembaga yang mencetak kader-kader pendidik/guru untuk memberikan ilmu pengetahuan psikologi kepada mereka calon pendidi tersebut.

B.     Saran
Adapun untuk para pendidik/guru sudah selayaknya menguasai ilmu psikologi ini, agar dalam proses belajar mengajar bisa meminimalisir kegagalan dalam penyampaian materi pelajarannya. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi pendidik/guru yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi pengajaran.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim. “Manfaat Mempelajari Psikologi”. Online.  http://pend-ekonomi.blogspot.com/2012/05/manfaat-mempelajari-psikologi.html. Diakses 22 Oktober 2012.
Anonim. “Sumbangan Psikologi Pendidikan”. Online. http://nomeng87.wordpress.com/sumbangan-psikologi-dalam-pendidikan/. Diakses 22 Oktober 2012.
Hutabalian. “Peranan Psikologi Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar”. Online. http://hutabalian72.wordpress.com/2010/02/02/peranan-psikologi-pendidikan-dalam-proses-belajar-mengajar/. Diakses 22 Oktober 2012.
Sahabuddin. 2007. Mengajar dan Belajar. Makassar: Badan Penerbit UNM.
Subrata, Sumadi. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Thalib, Syamsul Bachri. 2010. Psikologi pendidikan berbasis analisis empiris empiris aplikatif. Jakarta : Kencana.